Friday, September 25, 2015

Fimosis dan sunat bayi

Lanjutan cerita Prince Hilmi sakit, jadi setelah 2 minggu kembali kontrol ke DSA, yaa selama 2 minggu sih intensitas Hilmi kencing sudah mulai membaik, tapi ada kalanya ketika dia mau kencing, ujung penisnya mengembung, dan daripada ISKnya (kalaupun memang ISK) berulang nanti, jadi kami mengikuti saran DSA untuk sunat saja.

Dirujuklah kami ke dokter bedah, hari itu juga kami langsung daftar untuk konsul ke dokter bedah, hanya karena udah kesiangan, dokter bedahnya sudah masuk ruang operasi, ya wes kembali besok.

Besok, tiba di RS, ngantri bentar di poli bedah langsung deh ketemu sama dokter bedah yang baik hati dan enak banget diajakin konsultasi, setelah membeberkan kondisi Hilmi, setelah ngecek penis Hilmi beliau langsung bilang sebaiknya disunat secepatnya, karena lubangnya penisnya terlalu kecil, dan kondisi kulup kelamin jika dibuka mentok, tidak terbuka dengan baik, daripada sisa kencingnya mengendap malah berefek kurang baik nantinya seperti usus turun, jadi kami segera mengiyakan untuk sunat saya.

dokter bedah : ya sudah jadwalkan sunat segera, kasian kalau tidak disunat ini
saya : ya sudah dok, kalau memang begitu baiknya, kami siap.
dokter bedah : kapan maunya?
saya : bagaimana kalau sudah lebaran? (masih seminggu lagi lebarannya)
dokter bedah : wahh kelamaan, ini udah bukan EMERGENCY lagi, tapi udah URGENT, semakin menunda lama, kasian dia tiap mau kencing penisnya mengembung, nanti malah muncul penyakit lain.
ya sudah ya saya jadwalkan malam ini, jadi habis dari sini, periksa darah dulu, kalau bisa masuknya siang supaya bisa konsul dulu sama dokter anastesinya, karena akan menggunakan anastesi umum (bius total)

jadi kami langsung ke lab, saking tipisnya pembuluh darahnya, sampai 3x suntik, duhh kasian prince Hilmi sampai ngamuk2, ga tegaaa liatnya, tapi ya mau gimana, demiiiii sehat nih.

Setelah hasil darah keluar, pulang kerumah dulu, karena kita juga milihnya rumah sakit dekat rumah aja dimana sang dokter bedah juga bekerja disitu. Pulang beberes bentar, lalu jam 3 siang kami berangkat kerumah sakit.

sempat agak sedikit menghebohkan, karena statusnya Hilmi pasien operasi bedah, pas dijelasin kalau mau sunat baru semua lega, mungkin heran kali yaa, mau dioperasi bedah kok masih ceria2 aja hihihi. Jam 5 perawat masuk meminta Hilmi puasa, untung baru aja sudah reload, dan untung juga bukan masanya growth spurt, jadi dia ga terlalu rese kalau lapar.

Jam 7 dipanggil untuk pemasangan infus, disuntik lagi :( ngamuuk donnkk, habis pasang infus udah susah ditenangin karena ga bisa dikasih ASI, jadi dia nangis sampai tertidurrr, sabar yaaa babykuuuu.

Malam ini kami dijadwalkan paling terakhir, ada 3 operasi bedah malam itu, jam 9 kami baru dipanggil  menuju ruang operasi, menunggu sekitar 15 menit, hingga akhirnya Hilmi dibawah masuk sama tante perawat, orangtuanya menunggu diluar. Ikssssssss.

Ga lama kemudian (lupa ngitung waktunya) perawat keluar membawa 'kupasan' kulit kelamin Hilmi, artinya operasi sunat Hilmi telah selesai, tinggal tunggu Hilmi bangun.

Pas Hilmi bangun sekitar jam 10, saya diminta masuk ruang recovery untuk nenangin Hilmi karena sudah ngamuk banget, kesakitan kali yaa? ya iyaaalaaah, dia nangis, ngamuk, susah ditenangin, gendongnya juga jadi serba salah, dan perawat pendamping dari kamar perawatan pun belum datang, jadi Hilmi belum boleh dibawa keluar dari ruang recovery.

Ga lama perawat datang, saya gendong Hilmi kembali ke kamar perawatan, masih dalam kondisi ngamuk, dan setiba dikamar, ternyata infusnya lepas, dan darahnya keluar banyaaaak bangett :( udah ngiluuu banget rasanya hati ini, kasiaaan banget liat dia seperti itu.

Untung setelah dikasih ASI ga lama dia mulai tertidur, walaupun yaaa bentar2 nangis, jadi malam itu indonya pun ga tidur berjaga disamping Hilmi, mana agak merepotkan dengan infusnya jadi tiap dia ngamuk, susah banget ngatur posisi supaya indo nyaman dan Hilmipun juga nyaman.

Paginya, Hilmi udah ceriaaa, sudah ketawa, kadang sih masih nangis, mungkin merasa perih dikit, tapi udah bisa dihandle, yang susah cuma menjaga si selang infus ga dimainin sama baby iniiii.

Alhamdulillah Jumat sudah perbolehkan pulang, perban dibuka sebelum kita pulang dan diresepin salep biar cepat kering. Dan Idul Adha kemarin Hilmi sudah ikut berlebaran, luka sunatnya sudah kering, jadi sudah bisa pakai popok dan celana. Alhamdulillah.

Selama masa seminggu ini, sebenarnya banyak banget pertanyaan dari teman2 kenapa Hilmi kami sunat secepat itu dan apa penyebabnya sehingga Hilmi kami sunat.

Jadi kondisi lubang penis Hilmi yang kecil itu disebut Fimosis, yaitu pelekatan kulup kelamin, sehingga ketika ditarik tidak bisa terbuka sempurna, menurut yang saya baca2, banyak bayi laki-laki yang kena fimosis fisiologis (bawaan lahir) tapi akan merenggang dan normal kembali seiring bertambahnya usia anak, tapiiii jika diikuti dengan kondisi2 seperti penis mengembung ketika buang air, bayi menangis ketika buang air, 'pancuran' kencing tidak bisa diperkirakan, bahkan kadang hanya menetes, sebaiknya sih segera bawa ke dokter.

Sunat memang bukan jalan satu-satunya untuk mengobati fimosis ini, tapi sunat merupakan jalan yang terbaik dan efektif untuk mengatasi fimosis. Tidak usah ragu dengan usia bayi yang masih sangattt kecil, karena semakin cepat ditangani, semakin bagus, ada beberapa kasus dikampung suami, anak usia dibawah 3 tahun sudah kena usus turun, nah ini salah satu penyakit yang akan muncul jika gangguan kencing yang menjadi penyebab fimosis ini tidak segera ditangani.

Awal-awal sih banyak pro-kontra, kontra sebenarnya hanya karena kasian Hilmi masih terlalu kecil kok disunat, tapi berdasarkan pengalaman beberapa teman dan juga menurut kakeknya Hilmi waktu zaman nabi katanya bayi usia 7hari sudah disunat (ntah ini sunnah atau hanya tradisi zaman itu, belum cari info lebih lanjut) dan dibeberapa wilayah malah jadi tradisi juga, makanya makin yakin untuk segera melakukan sunat Hilmi.

Oya, total pembayaran untuk operasi sunat sebesar 9jt 160rban, udah termasuk biaya kamar untuk 2 hari dan obat-obat2an, dan jasa visit dokter, untuk biaya tindakan operasi sebesar 8jtan. Untungnya sih full cover BPJS, asal tidak upgrade kamar. Misal nih yaaa, menurut kelas golongan ambenya Hilmi jatah Hilmi itu kamar kelas 2, jadi jika kami mau upgrade kamar kelas 1 atau VIP, maka biaya tindakan operasinya pun diupgrade, jadi bukan hanya sekedar tambah biaya kamar aja, tapi biaya operasi juga ikut terupgrade.

Jadi kami tetap pilih kelas 2, untungnya dirumah sakit tersebut, untuk kamar kelas 2 tetap ditempati oleh 1 pasien, hanya kamarnya lebih kecil, dan tempat tidur yang didapatpun tidak seempuk kalau pakai VIP hihihi yaa ga masalah sih.

Kami hanya bayar 85rb, karena ada obat yang tidak tertanggung BPJS. Jadi kalau teman-teman nanti punya pengalaman seperti Hilmi dan berniat untuk melakukan operasi sunat, sebaiknya siapkan dulu asuransi untuk mengcover biayanya.

Semoga pengalaman kami bermanfaat yaaaaaaa.


Saturday, September 12, 2015

Prince Hilmi Milih BLW untuk Metode MPASI

Setelah kurang lebih sebulan maraton baca materi MPASI, mencari lebih banyak informasi disetiap metode dan aliran MPASI, indonya Hilmi akhirnya memutuskan untuk memilih metode BLW untuk metode MPASI Hilmi.

BLW atau disingkat Baby-Led Weaning merupakan metode dimana bayi dituntun untuk makan sendiri dimulai dari usia makannya (minimal usia 6 bulan atau 180 hari), dan karena bayi makan sendiri jadi penyajian makanannya bukan bentuk bubur atau puree tapi berupa potongan buah/sayur atau finger food yaitu makanan yang bisa dipegang oleh bayi.

Tertarik banget sih mau liat Hilmi seantusias apa masukin makanan dimulutnya, apakah di hari pertama berhasil? atau hanya jadi mainan? Tapi dari membaca segala informasi tersebut, saya merasa nyaman menggunakan metode ini.

Metode MPASI dibagi 2 metode, yaitu spoonfeeding (bayi disuapi) dan BLW. Nah spoonfeeding ini mengenalkan bayi terhadap makanan dimulai dari tekstur yang mendekati ASI dan perlahan dinaikkan tingkatnya hingga mampu mencerna table food. Beda dengan BLW dimana sang bayi yang baru mulai belajar makan langsung dituntun untuk belajar makan sendiri dengan makanan2 yang sama dengan table food (makanan yang dimakan orang rumah) paling yang membedakan untuk makanan si bayi tanpa gula dan garam hingga berumur 1 tahun kelak.

Pada dasarnya mau pakai metode apapun panduan MPASI yang paling dasar adalah : Bayi sudah siap makan, dan menurut panduan WHO, pencernaan bayi sudah mencapai kesempurnaan untuk mengolah makanan selain ASI diusia 6 bulan atau 180 hari. Selain itu dengan tidak mengenalkan gula dan garam sebelum berusia 1 tahun demi kesehatan ginjalnya.

Dari hasil baca-baca informasi tentang BLW akhirnya saya memilih ini dengan pertimbangan, metode BLW ini meminimalkan anak untuk menjadi Picky Eater! dari Hilmi lahir, neneknya (mertua saya) sudah sering mengulang-ngulang betapa ambenya Hilmi itu picky eater kelas berat ketika kecil dulu, kata mertua masuk 3 suap itu udah syukur banget, itupun pake dikejar-kejar. Nahh ada juga omnya Hilmi (Sepupunya ambenya) yang 'mewarisi' bakat picky eater si kakak sepupunya ini. Jadi terus terang besar sekali kekhawatiran saya Hilmi nanti juga ikut 'mewarisi' bakat kebiasaan jelek tersebut.

Ntahlah yaa bagaimana saya dulu waktu kecil, lupa apakah ibu pernah cerita bahwa saya sang picky eater atau bukan, tapi adek-adek sepupu saya yang lahirnya ketika saya sudah besar dan otomatis saya turut serta dalam proses memberi mereka makan, tidak pernah nemu sepupu saya yang picky eater, semua makannya lahap, dan lagiiii lebih mandiri, karena penjaganya (saya) adalah perempuan pemalas , jadi saya lebih sering membiarkan mereka makan sendiri ketika mereka sudah mahir memegang sendok (sekitar usia 9-10 bulan), ga ada acara suap-suapan lagi, walaupun memang lebih berantakan, tapi mending ngerapiin sisa pertempuran mereka dibanding harus suap-suapan, belum lagi kalau makanan pakai di emuttt, duhhh malesss deh.

Nah berdasarkan dari kebiasaan saya ketika ngurusin adek sepupu saya yang sering dititipin dirumah nenek (dimana saya numpang) karena ibunya adalah working mom dan saya waktu itu adalah pengangguran (duh penting ga sih ngejelasin sedetail ini?:D) nahh Hilmi juga saya mau ajarin mandiri sejak awal, cuma baru ngeh kalau ternyata metode ini bernama BLW dan ternyata lagi bisa dimulai dari 6bulan!

Metode ini sebenarnya bukan metode baru, tapi kebanyakan orang, belum bisa menerima metode ini, apalagi jika hanya melihat, tidak mempelajari apa itu BLW, otomatis sih akan timbul kesan negatif diawal, saya udah nyiapin mental jauh2 hari jika nanti saya ditentang karena menggunakan metode ini, saya udah siapin amunisi jawaban jika dicecar dengan banyak pertanyaan, intinya sih saya siap!

Tapi untuk meminimalkan 'serangan', apalagi saya malas stress dengan proses pemberian makan ini, khan ga asyik banget pas lagi fun2nya melihat Hilmi mengeksplorasi makanannya tiba2 dapat protes dengan kata-kata yang tidak menyenangkan, beberapa hari ketika saya memutuskan akan menggunakan metode ini saya sudah mulai sounding ke orang rumah (saya masih numpang sama mertua dan ipar saya banyak :D) bahwa nanti jika saatnya makan Hilmi makan sendiri, sambil sering ngomong ke Hilmi juga, nanti makannya sendiri yaa nak, dipegang sendiri makanannya dll.

Seminggu sebelum saatnya MPASI pertama, tuan suami juga sudah download beberapa video di youtube bayi2 yang lagi BLWan, dan untungnya beberapa bulan yang lalu sempat ada liputannya tuh di NetTV tentang metode ini, jadi sama suami didownload juga beritanya, dan dengan sengaja diputar aja di laptop pas lagi ngumpul2, paling tidak orang rumah paham bahwa ada metode ini dan sudah banyak yang menggunakannya.

Kalau menurut saya MPASI itu adalah aktivitas yang seharusnya fun, dalam arti ibu dan bayinya merasa nyaman dengan proses ini, jadi mau pakai metode apapun selagi keduanya nyaman, hasilnya pun akan maksimal, jadi jika ditengah jalan saya belok arah jadi metode spoonfeeding itu bukan karena saya tidak konsisten :D tapi bisa jadi selama proses ini ada diantara kami berdua yang mulai nda nyaman, tapi semoga sih konsisten yaaaaaaaaaaaa, yaaa cheating methode 1-2 kali mungkin boleh (hahaha!)

Tapi diliat aja nanti, belum mau membeberkan Hilmi Diarys tentang MPASI hari pertama, dikumpulin dulu diarynya hingga 1 minggu nanti baru setor laporan lagi bagaimana perkembangannya.

Doain Hilmi tidak disinggahi virus GTM yaa selama proses ini, dan semoga ketika nanti Hilmi lulus MPASI, Hilmi sudah lebih pintar makan sendiri, dan keahlian2 yang menjadi kelebihan BLW semakin meningkat. Aamiin.